Oleh: hadilestari | April 4, 2009

Budaya perusahaan : Ketika strategi saja tidak cukup !

Mengapa sejumlah perusahaan secara konsisten mengungguli performa kompetitor mereka?

Tim peneliti ‘The Evergreen Project’ meneliti 160 perusahaan besar untuk menemukan jawaban di atas. Mereka berhasil membagi perusahaan-perusahaan itu menjadi empat kategori: mulai dari Pemenang, yang secara konsisten mengungguli performa kompetitor mereka; Pecundang, yang jatuh dari waktu ke waktu; Pemanjat, yang mulai dengan buruk tapi kemudian menemukan cara untuk memperbaiki diri secara dramatis; dan Yang Jatuh, yang mulai dengan keuntungan lumayan kemudian hancur.

Para pakar itu kemudian melakukan pemeriksaan silang atas rencana-rencana strategis tiap perusahaan yang menggunakan dua ratus lebih taktik berkekuatan tinggi. Semua ide cemerlang ada dalam daftar –mulai dari ”Customer Relationship Manager (CRM)” sampai ”Six Sigma”, dari ”Umpan Balik 360 derajat” sampai ”Perencanaan Sumber Daya Bisnis.”

Apa yang membuat perusahaan-perusahaan dalam kategori Pemenang selalu memimpin? Salah satu alasan yang paling penting adalah adanya keterlibatan aktif semua orang dalam organisasi.

Adapun mengenai strategi yang diterapkan, hasil temuan tim peneliti itu cukup mengejutkan. Ternyata, apa pun strategi yang diterapkan, sentralisasi atau desentralisasi, ERP atau CRM, pengaruhnya tidak besar. Yang berpengaruh sangat besar adalah bagaimana penerapan strategi tersebut. Dan, yang paling menentukan performa perusahaan adalah genggamannya pada misi paling dasar manajemen –untuk memastikan semua orang pada setiap tingkatan terlibat.

Saat Kotter dan Heskett menerbitkan buku bertajuk Corporate Culture and Performance, banyak eksekutif terbelalak menjumpai fakta betapa besar pengaruh sebuah budaya pada kinerja perusahaan.

Betapa tidak, buku tersebut secara gamblang mengulas bagaimana sebuah perusahaan raksasa Xerox harus mengalami kenyataan pahit bahwa pangsa pasarnya 50% ludes digerogoti oleh pesaingnya dari jepang di pasar domestik mereke, Amerika.

Menurut penelitian Kotter dan Heskett, ujung pangkal masalah yang dialami Xerox justru terletak pada soft skills yaitu budaya perusahaan. Xerox`saat itu mendominasi pasar hingga pangsa pasarnya 74% sedangkan sisanya adalah dibagi beberapa pesaingnya. Wajar bila Xerox berbangga diri dan puas dengan kinerja ini.

Yang terjadi kemudian adalah bahwa untuk mengantisipasi permintaan pasar yang semakin banyak maka Xerox melakukan perekrutan besar-besaran untuk mengisi jabatan manajerial. Namun sayang, kebanyakan manajer yang direkrut lebih berwawasan operasional berbasis efisiensi sehingga Xerox tumbuh menjadi perusahaan yang birokratis dan menikmati sebagai market leader. Xerox hidup dalam kebanggaan sebagai pemenang dan tanpa menyadari bahwa pangsa pasarnya digerogoti sedikit demi sedikit oleh pesaing dari Jepang: Canon.

Singkat kata, dalam waktu 6 tahun pangsa pasar anjlok menjadi 44%. Menurut Kotter dan Heskett, budaya kerja di Xerox telah terbangun secara kokoh namun tidak adaptif terhadap perubahan bahkan cenderung membawa perusahaan ke arena arogansi sebagai pemimpin pasar dan terjebak dalam dunia comfort zone.

Sementara itu, Jim Collins bersama timnya yang terdiri dari 21 orang melakukan penelitian yang hasilnya dipublikasikan ke dalam suatu buku yang terkenal dengan nama Good To Great (2001).
Berawal dari rasa penasaran Jim terkait dengan pemilihan perusahaan dengan predikat ”luar biasa”, melakukan penelitian intensif bersama timnya. Kriterianya sangat ketat, antara lain rentang waktu 15 tahun dan perusahaan tersebut memiliki tingkat pengembalian kumulatif kepada pemegang saham minimum 3 kali. Ujungnya, terjaringlah 11 perusahaan kategori luar biasa.

Yang menarik adalah apa yang dilakukan 11 perusahaan tersebut sehingga mereka masuk kategori luar biasa (great). Ternyata mereka melakukan bisnisnya dengan menerapkan tiga pilar utama: disciplined people, disciplined thought dan disciplined action. Kombinasi dari tiga hal inilah yang membuat perusahaan menjadi luar biasa. Bila perusahaan memiliki disciplined people saja, maka masih tergolong ”good” saja. Tapi bila ditambah dengan disciplined thought dan disciplined action maka bisa dipastikan perusahaan menjadi luar biasa.

Penelitian lain pada perusahaan yang mampu bertahan lebih dari 50 tahun, oleh para pakar bisnis dan ekonomi ditemukan 3 winning characteristic yang menjadi alasan sustainablenya yaitu: Adaptability, Culture, dan Innovation.
Karakter pertama adalah Adaptability. Segala sesuatu yang ada di dunia bisnis akan selalu dan setiap saat berubah. Untuk bertahan, jelaslah bahwa perusahaan dituntut untuk memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi. Bahkan bilamana memungkinkan, sang pemimpin perusahaan harus mampu membaca ke arah mana perubahan ini bergerak dan sebisa mungkin mengadaptasikan perusahaannya untuk menghadapi situasi tersebut.

Karakter kedua adalah Corporate Culture, atau Budaya Perusahaan. Budaya perusahaan bukanlah sekedar peraturan tertulis, dasar operasional, atau sistematika kerja yang menjadi buku suci perusahaan. Lebih dari itu, budaya perusahaan adalah spirit d’corps jiwa perusahaan, yang menjiwai keseharian dan segala aktivitas dalam perusahaan anda. Sangat ditekankan pentingnya Budaya Perusahaan yang menjadi dasar dari kinerja perusahaan agar mampu berkembang dan bersaing dalam jangka panjang.

Karakter ketiga adalah Innovation. Innovation bukan lagi sekedar ke arah ‘luar’ dengan menginovasi produk – produk yang dipasarkan, tapi juga ditanamkan dari ‘dalam’ perusahaan. Inovasi ke ‘dalam’ dimulai dari pembentukan prinsip dasar yang dipegang oleh perusahaan dan menjadi jiwa dalam kesehariannya. Inovasi dari dalam ini akan terus berjalan membentuk inovasi ke ‘luar’ untuk mempertahankan market yang telah dikuasai dengan meluncurkan produk – produk yang mencerminkan prinsip perusahaan tersebut dan mampu merebut hati para konsumen. “

 

Jika strategi belum mampu memperbaiki performansi perusahaan, maka rubahlah culturenya…
It’s Not What You Say…It’s What You Do !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: