Oleh: hadilestari | April 12, 2009

Bagaimana agar bahagia di dunia…

Ibnu Abbas RA adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus dido’akan Rasulullah SAW. Selain itu, pada usia 9 tahun, Ibnu Abbas telah hafal Al-Qur’an dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari, ia ditanya oleh para tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas, ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qana’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah, ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan, maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW, “Kalau kita sedang sulit, perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita.” Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur, maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua, al-azwaju shalihah atau pasangan hidup yang shaleh.

Pasangan hidup yang shaleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang shaleh pula. Di akhirat kelak, seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang shaleh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang shaleh. Demikian pula seorang istri yang shaleh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang shaleh.

Ketiga, al-auladun abrar atau anak yang shaleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf, Rasulullah SAW bertanya kepada
anak muda itu, “Kenapa pundakmu itu?” Jawab anak muda itu, “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika shalat, atau ketika istirahat. Selain itu, sisanya saya selalu menggendongnya.” Lalu anak muda itu bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orangtua?” Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan, “Sungguh Allah ridha kepadamu, kamu anak yang shaleh, anak yang berbakti. Tapi, anakku, ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu.” Dari hadits tersebut, kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orangtua kita, namun minimal kita bisa memulainya
dengan menjadi anak yang shaleh, dimana do’a anak yang shaleh kepada orangtuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang shaleh.

Keempat, al-biatu shalihah atau yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah kita boleh mengenal siapa pun, tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang shaleh. Orang-orang yang shaleh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang shaleh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada di sekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang shaleh.

Kelima, al-malul halal atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta, tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab shadaqah, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdo’a mengangkat tangan. “Kamu berdo’a sudah bagus,” kata Nabi SAW, “Namun sayang, makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana do’anya dikabulkan.”
Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena do’anya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci, dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dal am hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, tafakuh fi dien atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama
Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaanNya. Allah menjanjikan nikmat bagi umatNya yang menuntut ilmu. Semakin ia belajar, semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasulNya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati
yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, umur yang barokah. Umur yang barokah itu artinya umur yang semakin tua semakin shaleh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, ia pun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu, pikirannya terfokus pada
bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka ia pun sibuk berangan-angan
terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah), maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam
kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang barokah umurnya. Maka berbahagialah orang-orang yang umurnya barokah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas RA mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia. Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa ‘sapu jagat’, yaitu do’a yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama do’a tersebut,
“Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (Ya Allah, karuniakanlah aku kebahagiaan dunia), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas RA tersebut. Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan do’a sapu jagat tersebut, yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (dan juga kebahagiaan akhirat), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga, tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah. Kita masuk surga bukan karena amal shaleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Amal shaleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita, walau setiap hari puasa dan shalat malam, tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal shaleh, sesempurna apa pun yang kita lakukan seumur hidup kita, tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal shaleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga.” Lalu para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan Engkau, ya Rasulullah?” Jawab Rasulullah SAW, “Amal shaleh saya pun juga tidak cukup.” Lalu para sahabat kembali bertanya, “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” Nabi SAW kembali menjawab, “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata.”

Jadi, shalat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga, tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah. Aamiin.

*) Ceramah Ust. Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang. Disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: